ISRA MIRAJ NABI MUHAMAD SAW
sejak berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib.
Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi
Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-
sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam.
Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada
Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah
fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah
salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-
kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik
(dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di
dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa salat di
Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami
hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah
wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga
ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia.
Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW,
dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang
mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa
atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu)
Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan
yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi
manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW),
saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah
menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya
inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya
memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau
mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan
dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.
Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang
melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di
atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah
semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh
partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala
yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi
galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan
lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama
sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an tidak selalu
menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an
ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak
terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
“Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji
benih yang menumbuhkan TUJUH tangkai yang masing-masingnya berbuah
seratus butir. Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang-orang yang
dikehendakinya….”
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
“Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan
lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan
habis Kalimat Allah….”
Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan
benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai
lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, …
sampai langit ke tujuh dalam kisah isra’ mi’raj? Mungkin ada orang
mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu
ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke
empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan
planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada
orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai
saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus),
tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang
mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua
orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima
Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau
begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada
di planet Pluto.
Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin
terlampaui. Jadilah, isra’ mi’raj dibayangkan seperti kisah Science
Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na’udzu billah
mindzalik.
Saya berpendapat, pengertian langit dalam kisah isra’ mi’raj bukanlah
pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi
pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi.
Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra’ mi’raj adalah alam ghaib
yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia.
Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj
adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Makna pentingnya
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat
perjalanan isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia
sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai
bahwa isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah
SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya
(QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah salat wajib secara langsung
kepada Rasulullah SAW.
Makna penting isra’ mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan
penyampaian perintah salat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan
salat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat mesti dilakukan oleh
setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini
berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang
mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi
yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Salat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela
kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa
setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al
Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat
Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang
lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar